Langsung ke konten utama

Sayap yang hilang, kembali pulang....

Mungkin memang Tuhan mengirimkanku untuk mengisi bagian yang rumpang didalam puzzle kehidupanmu. Mungkin juga, Tuhan mengerti jika aku yang memahamimu di suatu kondisi yang memang orang lain tak memahami. Suatu hari kamu pun pernah mengatakan, bahwa aku adalah pelengkapmu. Aku adalah sayap yang dikirimkan Tuhan untukmu. Mengimbangi dan membantumu untuk terbang. Laksana seorang burung kecil nan cantik, yang baru menetas dan mulai mencari arahnya.


Suatu hari, aku menghilang. Aku menemukan seseorang yang sebelumnya aku pikir adalah orang yang sempurna, bahkan melebihi dirimu. Seseorang yang aku pikir bisa mengarahkan aku dalam hal apapun. Bahkan aku sempat berpikir, dia adalah kayu penopang saat aku dahanku mulai rapuh. Kamu pun mulai merasakan, sayapmu bergetar. Seakan-akan ia ingin melepaskan diri dari tubuhmu. Engkau pun mulai meronta kesakitan. Sakit yang teramat. Saat sayap kirimu benar-benar bergetar malam itu, engkau hanya bisa diam dan pasrah menerima. Melihat kenyataan, bahwa aku akan pergi dan mungkin memilihnya.


Engkau rapuh. Bahkan tidak bisa lagi terbang. Karena, sayap kirimu seperti kehilangan jiwanya yang pergi kedalam raga yang lain. Saat-saat itu, aku benar-benar merasa dibutakan. Aku seperti melalang buana diatas cakrawala tanpa mempedulikan kamu. Seakan-akan aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan dalam dirinya. Semua yang aku lihat, semua yang aku dengar, aku merasa dia paling sempurna. Sampai suatu hari, saat jiwaku terbang, aku tiba-tiba mengingatmu...


Kenangan sekelebat itu seakan menamparku. Namun, aku tidak langsung sadar. Aku tetap meneruskan arahku untuk terbang jauh bersamanya. Hari demi hari yang aku lalui, seperti pelangi yang terus dilukis dan dipertebal warnanya. Sampai suatu saat, awan hitam, pekat, dan membawa kilatan cahaya petir menghadang didepanku. Seperti, mereka memberitahuku akan keberadaanmu saat ini. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Hati kecil berkata, aku harus kembali ke sarang, tapi dia juga berkata agar aku bertahan melewati badai yang sebenarnya tidak ingin aku lalui, karena aku tau, itu semua akan berujung sia-sia.


Perasaanku mulai gelisah. Aku pun memutuskan untuk mengunjungimu di sarang. Dan benar saja, kamu hanya diam dan terkulai karena sayap kirimu tak mampu kau gerakkan. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku. "Seperti yang kau lihat, bagaimana aku?" jawabnya, sembari bertanya lagi padaku. "Hmm.. Apa yang kau rasakan? Cobalah jujur" tanyaku lagi. "Baiklah. Aku hanya merasa, kamu bukanlah kamu yang dulu. Kamu berbeda, aku seperti tak mengenalimu lagi. Aku rumpang, sayap kiriku seakan patah" jawabnya. Sejujurnya aku bergetaaaar. Seluruh tubuhku lemas. Tapi, saat itu aku memang belum bisa memilih antara dia dengannya. Egoku mulai datang, seakan berteriak padaku "PILIH DIRINYA!". Lalu, hati kecilku berbisik "Kamu lebih menyayangi dia bukan? Ikutilah lorong kosong dalam hatimu, diujung jalan nanti, kamu akan menemukan lentera kecil yang meredup, jangan sampai kau biarkan dia benar-benar mati".


Antara kau dan dia. Sejujurnya, hatiku seperti tertarik kuat oleh magnet yang kau pancarkan. Aku benar-benar merasa, aku akan memilihmu. Tapi, disisi lain, dia banyak memberiku hal-hal positif. Sampai suatu hari, aku benar-benar tersadar, aku telah dibutakan.  Dirinya menjauh, begitu pula aku. Namun, yang membuatku terheran, kamu masih diam dan menungguku dengan setia di sarang hangatmu. Saat itulah aku tersadar, dan sangat bersyukur, aku memilikimu...

Dan janjiku...akan terus menjadi sayap kirimu, menjadi pelengkap, dan penyeimbangmu, saat kau terbang bebas. Aku kembali....


Sayap yang hilang, telah kembali pulang. Jiwa yang terbang, kini kembali ke sarang, hati yang tercuri, kembali menepi....








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Career switch: A regret, no?

Setelah lebih dari dua tahun gue memutuskan untuk memulai karir pekerjaan dengan menjadi seorang SEO content writer, this month I'm officially signing out . Keputusan ini sebenarnya udah lama pengen gue buat, tapi banyak pertimbangan yang harus gue pikirin sebelum mengambil langkah untuk mengundurkan diri dari pekerjaan gue.  Apakah gue menyesal untuk resign ? Nggak. Gue ngambil keputusan ini setelah melakukan diskusi yang matang dengan diri sendiri dan suami. Pengalaman selama bekerja ini sangat bermanfaat bagi gue yang awalnya buta dengan adanya job diversity yang ada di dunia ini, haha.  Gue pikir, pekerjaan itu ya sebatas di kantor atau yang punya titel profesi aja, contohnya dokter, dosen, perawat, petani, dsb. Ternyata setelah nyemplung disini, gue jadi tau kalau kita bisa dapat banyak kesempatan yang luas kalau kita bisa lihat peluang dan membuka mata lebar-lebar. Di tahun-tahun gue bekerja sebagai SEO content writer, pada akhirnya, gue menyadari bahwa ada yang hilang ...

Seputar Ilmu dan Teknologi Pangan (Food Science and Technology)

Assalamualaikum wr. wb. Hai bloggies! Ketemu lagi dengan saya di malam nan sendu dan syahdu habis ujan yang baru aja berhenti hehe. Nah, kali ini saya bakalan share sedikit nih tentang jurusan kuliah saya. Yap, Teknologi Hasil Pertanian program studi Ilmu dan Teknologi Pangan atau bahasa kerennya Food Science and Technology. Di tulisan ini, In shaa Allah saya akan share mengenai apa aja yang dipelajari di program studi ini, prospek ke depannya bagaimana, title yang didapat nanti apa dan masih banyak lagi. Saya niatin bikin tulisan ini udah lama banget tapi baru kesampaian sekarang karena alhamdulillah program studi ini peminatnya tiap tahun terus meningkat dan dicari! Wah, mantab kan? Yuk langsung aja kita bedah, Ilmu dan Teknologi Pangan! What is Food Science and Technology? Ilmu dan Teknologi Pangan atau dikenal dengan istilah Food Science and Technology mempunyai dua pengertian yang berbeda. Food science atau ilmu pangan adalah ilmu yang mempelajari tentang reaksi fisik...

Pilihan Terbaik

Aku punya banyak mimpi-mimpi yang hampir mustahil untuk aku tuliskan dalam selembar kertas. Tapi, kata orang...Mimpi itu harus ditulis. Soalnya, kalo nggak ditulis, nanti mimpi itu hanya tersimpan dalam angan. Sementara, kalau ditulis, mimpi itu akan selalu terlihat oleh mata. Kemudian, ia menjadi cambuk diri untuk terus semangat mewujudkan satu per satu darinya. Memang benar adanya. Aku mulai mencoba menulis satu per satu mimpiku di selembar kertas. Walau sifatnya short period , tapi aku tipikal yang saat ini mencoba untuk menulisnya dan menempel mimpi-mimpi yang aku tulis di kertas di dinding tepat di depan kasurku. Jadi, ketika aku bangun, aku akan selalu ingat bahwa mimpi-mimpiku itu menungguku untuk merealisasikannya. Singkat cerita, aku punya mimpi untuk menuntut ilmu di benua biru, yakni benua Eropa. Mimpi yang mustahil bagi sebagian orang, bukan? Namun untukku, mimpi itu masih bisa aku gapai. Kenapa? Karena banyak orang-orang disekitarku yang bisa meraihnya. Tentu saja deng...